Dalam hidup, kecerdasan seseorang sejatinya tak hanya dinilai dari gelar akademis atau strata pendidikan. Seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar: “Kami bersepuluh datang kepada Nabi saw, ketika seorang Anshar berdiri dan bertanya: ‘Wahai Nabi Allah, siapakah manusia yang paling cerdas dan paling mulia?’ Maka Rasulullah menjawab: ‘Mereka yang paling banyak mengingat mati dan paling banyak mempersiapkan kematian. Merekalah orang yang paling cerdas. Mereka akan pergi dengan mendapatkan kehormatan dunia dan kemuliaan akhirat.” ( HR. Ibnu Majah ).
Mengingat mati atau mempersiapkan kematian yang dimaksud bukan hanya terkait dengan kain kafan, harta warisan, surat wasiat, atau lahan pekuburan. Manusia cerdas tentu lebih giat mempersiapkan bekal untuk menghadapi kehidupan setelah mati. Saat dirinya dibangkitkan kembali di yaumul hisab atau hari perhitungan amal perbuatan selama di dunia. Sebagaimana dikabarkan Rasulullah saw: “Tidak ada seorangpun di antara kalian kecuali akan diajak bicara oleh Allah tanpa penerjemah. Kemudian ia menengok ke kanan, maka ia tidak melihat kecuali apa yang pernah dilakukannya (di dunia). Ia pun menengok ke kiri, maka ia tidak melihat kecuali apa yang pernah dilakukannya (di dunia). Lalu ia melihat ke depan, maka ia tidak melihat kecuali neraka ada di depan wajahnya. Karena itu jagalah diri kalian dari neraka meski dengan sebutir kurma.” ( Mutafaq ‘alaih )
Dengan mengingat mati dan meyakini sepenuh hati akan tibanya hari perhitungan, manusia cerdas akan lebih berhati-hati dalam berbuat. Selalu menjadikan ridho Allah swt sebagai tolok ukur perbuatan. Tidak mudah tergoda oleh gemerlap kenikmatan dunia yang menyilaukan. Ringan tangan dalam membelanjakan hartanya di jalan Allah swt. Tak kenal lelah mengajak orang lain kepada kebaikan dan kemuliaan Islam. Serta menghiasi hari-harinya dengan ibadah nafilah selain yang wajib. Semuanya dilakukan demi meraih kebahagiaan akhirat yang digambarkan Rasulullah dalam satu hadis-Nya, “Perbandingan antara kebahagiaan dunia dengan kebahagiaan akhirat, adalah seperti seseorang yang memasukkan jarinya ke dalam lautan yang luas, maka perhatikanlah berapa perbandingannya” ( HR. Muslim ).
Inilah karakter manusia cerdas sebagaimana ditegaskan Rasul dalam sabdanya: ”orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya serta biasa beramal untuk bekal kehidupan setelah mati. Sebaliknya, orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya, sementara dia berangan-angan kepada Allah”. Wallahu a’lam bi ash-shawab.
judul :menjadi manusia cerdas
alamat : http://hafidz341.wordpress.com
penulis : hafidz
Filed under: Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar »